Kompetisi dan inovasi industri seluler “menderingkan” Indonesia
Penulis:
Ni Made Ayu Wirastiti
Mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana, Bali
Telekomunikasi yang dulunya harus dibayar mahal untuk mendapatkan segala kemudahannya, yang dapat menghubungkan setiap orang dengan orang lain yang letaknya nun jauh disana, saat ini sudah tersihir oleh kecanggihan teknologi baik dalam sarana telekomunikasi fixedline wireline maupun fixedline wireless serta seluler hingga hampir semua lapisan masyarakat dari lapisan elit sampai pembantu rumah tangga dari kota besar ataupun pelosok-pelosok di seluruh Indonesia dapat mengakses sarana telekomunikasi yang ada untuk berbagai keperluan, baik untuk urusan bisnis, keluarga, ataupun keperluan lainnya.
Dongeng Cinderella yang meninabobokan kita dulu dimana para prajurit harus mendaki gunung dan melewati lembah hanya untuk menyampaikan pesan sang Maharaja sudah tidak lazim lagi terjadi. Namun, yang saat ini terjadi adalah pesatnya perkembangan teknologi yang merambat hampir ke seluruh sektor termasuk telekomunikasi. Di tengah lesunya kondisi perekonomian, sektor telekomunikasi tercatat sebagai investasi yang paling baik dan tertinggi pertumbuhannya. Sementara untuk manufaktur dan perbankan justru menurun akibat kondisi yang kurang kondusif bagi makro ekonomi. Industri telekomunikasi Indonesia terus bergerak dinamis. Besarnya dana investasi maupun ekspansi yang dikeluarkan operator telekomunikasi pada setiap tahunnya cukup besar. Jumlahnya bisa mencapai US$ 2 miliar hingga US$ 4 miliar. Walaupun kualitas telekomunikasi Indonesia tidak merajai Negara-Negara Asean lainnya, Namun, faktanya komunikasi menjadi sangat penting bagi rakyat Indonesia yang hampir seluruh wilayah geografisnya terdiri atas belasan ribu pulau besar dan kecil yang terpisah oleh lautan, Dapat dikatakan industri telekomunikasi saat ini sedang hangat-hangatnya.
Masa depan Industri seluler
Teknologi selular global system for mobile telecomunications menjadi primadona sejak 2 dekade ini yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman yang salah satunya dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang going mobile, ingin dapat dihubungi dan menghubungi di manapun berada, sehingga telepon seluler menjadi sangat berguna saat ini. Kenyataan ini yang mulai memicu industri seluler untuk berlomba-lomba memangsa konsumen pasar persaingan komunikasi mengingat nilai bisnis industri seluler Indonesia pada tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 80 triliun. Naik hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 45 triliun.
Pasar perangkat telekomunikasi di Indonesia pada 2007 diproyeksikan bakal mencapai US$2,86 miliar. Hal ini yang mendorong para industri seluler untuk melancarkan berbagai strategi untuk memaksimalkan potensi harta karun yang terkubur itu. Dahulu industri seluler masih hanya memegang teguh prinsip provider yang “baik hati” dengan melayani para konsumen baik dari segi fasilitas maupun pelayanan. Namun, kenyataan pahit harus ditelan mentah-mentah para provider mengingat terbuka lebarnya lahan ini. Oleh karena itu, prinsip provider yang baik hati tidak lagi cukup untuk memuaskan para pelanggan setia sehingga strategi jitu harus terus dilancarkan untuk tetap mempertahankan singgasana kejayaan tiap operator seluler. Saat ini saja telah ada 10 provider yang meramaikan industri telekomunikasi indonesia sehingga kompetisi industri ini otomatis membuahkan pasar persaingan yang efisien. Persaingan ini tentunya membuat para provider untuk lebih berbenah dalam aspek internal maupun eksternal agar para provider tidak kehilangan para pelanggan sejati yang menjadi penggerak bisnis.
Ternyata kompetisi industri di lain pihak juga menguntungkan pihak masyarakat sebagai konsumen. Saat ini banyak sekali operator seluler yang menawarkan harga miring untuk dapat menjangkau sanak saudara yang terletak bermil-mil jauhnya. Perkembangan akhir-akhir ini bahkan menunjukkan bahwa persaingan dengan menawarkan pulsa ataupun sms gratis dengan kondisi tertentu juga terjadi. Walaupun perang tarif ini sangat menguntungkan bagi konsumen namun para industri seluler pun tidak begitu dirugikan mengingat marginnya (EBITDA) masih cukup tinggi yakni 40%. Fenomena ini cukup wajar pada tahap awal perkembangan pasar yang masih mencari keseimbangannya. Apalagi untuk industri telekomunikasi yang sarat teknologi dan sangat dinamis merupakan hal yang wajar bagi perusahaan-perusahaan untuk menguji pasar, mengukur reaksi pesaing, dan mengubah tingkah laku mereka untuk menyesuaikan dengan strategi dan kondisi pesaing. Para konsumen saat ini sangat dimanjakan oleh kompetisi “panas” ini, bahkan tidak jarang para konsumen rela beralih provider hanya untuk mendapatkan keuntungan ini. Namun, sebenarnya para industri seluler tidak perlu khawatir melainkan harus memikirkan solusi lain selain terus bersaing dalam perang tarif karena ternyata strategi ini cukup jitu mengingat masyarakat Indonesia masih sangat sensitive terhadap harga.
Indonesia berdering
Menghadapi kompetisi perang tarif yang begitu gencar, inovasi yang terus dilakukan setiap operator seluler dan diperparah dengan semakin bertambahnya para provider baru, penulis menawarkan solusi untuk tetap memancangkan tombak kejayaan di tengah krisis ini melalui strategi “Kompetisi dan Inovasi yang Menderingkan Indonesia”
Hal ini didukung oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 220 juta jiwa merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat penetrasi komunikasi hanya 40 %, sangat menjanjikan terus bertambahnya para konsumen jasa telekomunikasi ini mengingat pengguna jasa sampai tahun 2007 ini masih 80 juta penduduk sehingga para provider tidak perlu takut akan kehabisan konsumen.
Strategi ini juga diperkuat oleh keterbatasan dana pemerintah untuk ekspansi ataupun investasi menyebabkan infrastruktur telekomunikasi kurang berkembang dibandingkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Apalagi hingga sekarang pun masih sekitar 60% desa di Indonesia belum dilayani oleh telepon sehingga dari segi geografis masih banyak potensi lahan-lahan yang jauh dari pusat kota besar yang belum dirambah oleh para operator seluler yang merupakan peluang untuk semakin memperluas jaringan sekaligus membantu “menderingkan” seluruh pelosok masyarakat dalam artian masyarakat di seluruh penjuru Indonesia dapat menikmati kemudahan telekomunikasi saat ini, sehingga tidak terjadi lagi diskriminasi daerah dan jasa telekomunikasi, operator seluler tersebut juga dapat ”mengakrabkan diri” dengan masyarakat seluruh Indonesia dan merajai pasar yang memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan telekomunikasi yang lebih luas.
Mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang heterogen dengan segala macam karakteristiknya, sebaiknya sebelum memperluas pasar persaingan sebaiknya para operator seluler melakukan segmentasi pasar terlebih dahulu dengan memilah konsumen masyarakat Indonesia menjadi unit pasar yang lebih kecil dan unik sehingga para operator seluler dapat dengan mudah memasuki celah ini dengan memahami karakteristik kebutuhan dan keinginan tiap unit sehingga para provider dapat melakukan inovasi untuk menghasilkan produk yang sesuai berdasarkan segmen yang akan menyajikan peluang yang lebih besar dengan karakteristik unit-unit tersebut. Hingga pada akhirnya, kebutuhan jasa komunikasi dapat dipenuhi oleh tiap operator seluler dengan cara yang unggul.
Selain itu, dari segi internal sebaiknya para provider lebih berbenah diri dalam hal infrastruktur, sumber daya manusia maupun pola marketing sehingga “angin segar” nampaknya pantas diberikan kepada seluruh pegawai provider agar mereka lebih fresh untuk terus menumbuhkembangkan inovasi untuk membuat operator seluler tempat mereka bekerja menjadi paling unggul, pola marketing yang berorientasi pada keadaan pasar persaingan juga dapat menjadi salah satu penentu dari keberhasilan provider tersebut seperti ketika Sony merancang walkman, ketika Nintendo merancang video game, para pengusaha tersebut dibanjiri pesanan karena mampu meracang produk yang “tepat”berdasarkan pekerjaan persiapan pemasaran yang cermat.
Nampaknya dalam memanfaatkan potensi lahan- lahan komunikasi yang belum terjamah, sepertinya para operator seluler harus kembali mengusung loyalitas dengan memberikan layanan terunggul yang seiring dengan tantangan perkembangan teknologi. Penulis menawarkan strategi-strategi utama untuk merambah seluruh pasar Indonesia dengan mengusung loyalitas yang meliputi kompetisi antar operator seluler melalui masyarakat Indonesia sebagai kekuatan utama mengingat sumber daya manusia Indonesia cukup tinggi, SDM yang tinggi ini dapat dijadikan kekuatan dengan cara menarik minat masyarakat untuk menjadi dealer-dealer operator seluler. Hal ini tentunya sangat menguntungkan para operator seluler karena para operator seluler tidak perlu repot-repot mengerahkan seluruh pegawai untuk menduduki seluruh daerah di Indonesia melainkan para operator tinggal memberikan stimulan-stimulan kepada dealer-dealer operator seluler agar mereka tetap menjadi tangan-tangan kedua dalam menggerakan roda perputaran operator seluler. Hal ini mungkin dapat dicapai melalui beberapa cara diantaranya yaitu pertama, dengan memudahkan registrasi untuk dapat menjadi dealer operator seluler karena terkadang para calon dealer ini “banting stir” setelah mengetahui rumitnya menjalankan usaha ini. Cara kedua yaitu fakta saat ini sepertinya telah ada yang menjadi dealer-dealer operator seluler di dalam komunitas mereka, contohnya siswa SLTP saat ini telah mampu berjualan pulsa tanpa perlu membuka toko, hal ini sebaiknya “dilirik” oleh para operator seluler mengingat keadaan sekolah-sekolah tersebar di seluruh Indonesia sebagai fasilitas yang wajib untuk mencerdaskan bangsa yang secara tidak langsung dapat memperluas pasar operator seluler ke seluruh penjuru Indonesia. Sebaiknya operator seluler juga menarik minat seseorang di tempat fasilitas umum lainya seperti rumah sakit, kantor-kantor ,dll yang tersebar luas di seluruh Indonesia karena mungkin tanpa diduga-duga satu orang dari tiap fasilitas umum inilah yang memenuhi kebutuhan telekomunikasi dikomunitasnya tersebut. Namun untuk mendukung hal ini sebaiknya para operator seluler mulai melakukan inovasi melihat potensi tangan-tangan kedua ini untuk memberikan kemudahan dengan memberikan fasilitas-fasilitas mengingat aktivitas yang dilakukan tidak hanya menjadi dealer operator seluler dan juga sesuai dengan motivasi mereka yakni menghasilkan standar hidup yang lebih baik agar mereka tetap menyemarakkan indutri seluler ini sehingga melalui cara ini operator seluler dapat memperluas pasar dan kemudahan teknologi ini tidak hanya “menderingkan” kota-kota besar saja akan tetapi juga menderingkan seluruh pelosok tanah air.
Strategi yang kedua, yaitu memenuhi prinsip dasar dari telekomunikasi yakni inovasi yang mengusung “everywhere” dan “everytime” karena pada prinsipnya para konsumen masih terus memegang teguh tujuan dasar dari telekomunikasi yaitu untuk “conecting people” sehingga operator seluler sebaiknya terus berinovasi untuk terus memuaskan keinginan konsumen dengan berbagai perbaikan infrastruktur yang dapat meliputi perluasan sinyal-sinyal operator seluler. Memang pada kenyataannya sinyal – sinyal operator seluler yang didukung oleh Base Tranciever System (BTS) dapat dikatakan cukup baik dan tersebar. Namun, di beberapa daerah yang agak jauh dari pusat kota keberadaanya masih kurang sehingga kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemerintah daerah sangat berperan untuk mendukung industri seluler ini. Sebaiknya para operator seluler memperkuat salah satu modal dasar komunikasi ini ini karena pembuatan BTS-BTS ini di daerah-daerah pelosok merupakan suatu investasi yang berpotensi untuk terus menggerakan industri seluler nantinya. Selain itu, terkadang untuk memberikan inovasi baru para operator seluler tampaknya dapat dikatakan agak mengorbankan konsumen lainnya yang agaknya sering terjadi gangguan-gangguan. Hal ini nampaknya harus dibenahi secara serius mengingat akhirnya tujuan dasar yang konsumen inginkan untuk berkomunikasi menjadi terganggu sehingga jangan sampai inovasi ini menjadi “pisau bemata dua” yang tadinya ingin menari hati konsumen malah membuat para konsumen beralih.
Strategi yang ketiga, yang dapat dikatakan penentu yakni dengan berlomba-lomba menanamkan citra baik merek tiap operator dan dapat diandalkan di benak masyarakat sebagai konsumen jasa ini, karena mungkin usaha-usaha yang dilakukan diatas tidak akan memberikan hasil yang maksimal tanpa promosi-promosi. Agar nantinya produk-produk tersebut tertanam di benak mereka merupakan produk dari operator seluler yang terunggul yang mampu menjawab seluruh kebutuhan mereka, hal ini juga harus disertai “reward” yang sesuai dengan inovasi unggulan yang ditawarkan saat promosi agar konsumen tidak merasa dibohongi.
Pada akhirnya kekuatan tenaga penjual tiap operator seluler, tarif yang murah, strategi pemasaran dan reputasi perusahaan dalam hal keandalan dan mutu dapat membuat strategi yang tak terkalahkan dalam menghadapi persaingan industri seluler yang sangat ketat saat ini.
Lalu apa lagi yang ditunggu para operator seluler untuk berlomba- lomba memberikan layanan yang terintegrasi memenangkan potensi “harta karun” yang tertimbun diantara 220 juta jiwa penduduk Indonesia yang sekaligus dapat menghadiahkan pemerintah “Indonesia berdering”. Hal ini dapat dilakukan oleh tiap operator termasuk PT. Excelcomindo Pratama untuk dapat merajai seluruh pasar Indonesia.


0 komentar:
Post a Comment